• Kehangatan Janda Di Kota Malang

    Date: 2010.07.23 | Category: Cerita, Cerita 17 Tahun, Cerita Dewasa, cerita hot, Cerita Panas, Cerita Panaz, Cerita Selingkuh, Cerita Seru, Cerita Sex | Tags: ,,,,,,,,,,

    Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di kota Malang. Karena tugas kantorku,aku terpaksa tinggal di Malang selama 14 hari. Di kota ini, aku nebeng tinggal di rumah orang tua temanku. Menurutnya, rumah itu hanya ditinggali oleh Ayahnya yang sudah pikun, seorang perawat, dan seorang pembantu.
    “Rumah yang asri” gumamku dalam hati. Halaman yang hijau, penuh tanaman dan bunga yang segar dikombinasikan dengan kolam ikan berbentuk oval.

    cerita dewasa cerita sex cerita saru cerita panas hanya di www.cerita.fridabali.com

    Aku mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali sampai pintu dibukakan. Sesosok tubuh semampai berbaju serba putih menyambutku dengan senyum manisnya.

    “Pak Rafi ya..” sapa wanita itu dengan senyum yang ramah
    “Ya.., saya temannya Mas Anto yang akan menyewa kamar disini..Lho, kamu kan pernah kerja di tetanggaku?” jawabku surprise.

    Perawat ini memang pernah bekerja pada tetanggaku di Bintaro sebagai baby sitter.

    “Iya.. saya dulu pengasuhnya Anisa. Saya keluar dari sana karena ada rencana untuk kawin lagi. Saya kan
    dulu janda pak.. tapi mungkin belum jodo.. ee dianya pergi sama orang lain.. ya
    sudah, akhirnnya saya kerja di sini..” Mataku memandangi sekujur tubuhnya.

    Warti nama si perawat itu secara fisik memang tidak pantas menjadi seorang
    perawat. Kulitnya putih mulus, wajahnya manis, rambutnya hitam sebahu, buah
    dadanya sedang menantang, dan kakinya panjang semampai. Kedua matanya yang
    bundar memandang langsung mataku, seakan ingin mengatakan sesuatu.

    Aku tergagap dan berkata “Ee.. Mbak Warti, Bapak ada?”
    “Bapak sedang tidur. Tapi Mas Anto sudah nitip sama saya. Mari saya antarkan ke kamar..”. Warti menunjukkan kamar
    yang sudah disediakan untukku.

    Kamar yang luas, ber AC, tempat tidur besar, kamar mandi sendiri, dan sebuah meja kerja. Aku meletakkan, koporku di lantai
    sambil meliat berkeliling, sementara Warti merunduk merapikan sprei ranjangku.

    cerita dewasa cerita sex cerita saru cerita panas hanya di www.cerita.fridabali.com

    Tanpa sengaja aku melirik Warti yang sedang menunduk. Dari balik baju putihnya
    yang kebetulan berdada rendah, terlihat dua buah dadanya yang ranum bergayut di
    hadapanku. Ujung buah dada yang berwarna putih itu ditutup oleh BH berwarna
    pink. Darahku terkesiap. Ahh.. perawat cantik, janda, di rumah yang relatif kosong..

    Sadar melihat aku terkesima akan keelokan buah dadanya, dengan tersipu-sipu Warti
    menghalangi pemandangan indah itu dengan tangannya.

    “Semuanya sudah beres Pak.. silakan beristirahat..” “Ee.. ya.. terima kasih” jawabku seperti baru saja
    terlepas dari lamunan panjang.

    Sore itu aku berkenalan dengan ayah Anto yang sudah pikun itu. Ia tinggal
    sendiri di rumah itu setelah ditinggalkan oleh istrinya 5 tahun yang lalu.
    Selama beramah tamah dengan sang Bapak, mataku tak lepas memandangi Warti. Sore
    itu ia menggunakan daster tipis yang dikombinasikan dengan celana kulot yang
    juga tipis. Buah dadanya nampak semakin menyembul dengan dandanan seperti itu.

    Di rumah itu ada seorang pembantu berumur sekitar 17 tahun. Mukanya manis,
    walaupun tidak secantik Warti. Badannya bongsor dan motok. Anik namanya.
    Ia yang sehari-hari menyediakan makan untukku.

    Hari demi hari berlalu. Karena kepiawaianku dalam bergaul, aku sudah sangat
    akrab dengan orang-orang di rumahku. Bahkan Ani sudah biasa mengurutku dan Warti
    sudah berani untuk ngobrol di kamarku.

    Bagi janda muda itu, aku sudah merupakan tempat mencurahkan isi hatinya. Begitu mudah keakraban itu terjadi hingga
    kadang-kadang Warti merasa tidak perlu mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarku.

    Sampai suatu malam, ketika itu hujan turun dengan lebatnya. Aku, karena sedang suntuk memasang VCD porno kesukaanku di laptopku. Tengah asik2nya aku menonton
    tanpa sadar aku menoleh ke arah pintu, astaga.. Warti tengah berdiri disana sambil juga ikut menonton. Rupanya aku lupa menutup pintu, dan ia tertarik akan
    suara-suara erotis yang dikeluarkan oleh film produksi Vivid interactive itu.

    cerita dewasa cerita sex cerita saru cerita panas hanya di www.cerita.fridabali.com

    Ketika sadar bahwa aku mengetahui kehadirannya, Warti tersipu dan berlari ke luar kamar.

    “Mbak Warti..” panggilku seraya mengejarnya ke luar.
    Kuraih tangannya dan kutarik kembali ke kamarku.
    “Mbak Warti.. mau nonton bareng? Ngga apa-apa kok.. ”
    “Ah, ngga Pak.. malu aku..” katanya sambil melengos.
    “Lho.. kok malu.. kayak sama siapa saja.. kamu itu.. wong kamu sudah cerita banyak tentang diri kamu dan
    keluarga..dari yang jelek sampai yang bagus.. masak masih ngomong malu sama
    aku??” Kataku seraya menariknya ke arah ranjangku.

    “Yuk kita nonton bareng yuk..” Aku mendudukkan Warti di ranjangku dan pintu kamarku kukunci. Dengan
    santai aku duduk di samping Warti sambil mengeraskan suara laptop ku. Adegan-adegan erotis yang diperlihatkan ke 2 bintang porno itu memang
    menakjubkan. Mereka bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik Warti yang sedari tadi takjub memandangi adegan-adegan panas tersebut. Terlihat ia
    berkali-kali menelan ludah. Nafasnya mulai memburu, dan buah dadanya terlihat naik turun.

    Aku memberanikan diri untuk memegang tangannya yang putih mulus itu.. Warti tampak sedikit kaget, namun ia membiarkan tanganku membelai telapak
    tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Warti basah oleh keringat. Aku membelai-belai tangannya seraya perlahan-lahan mulai mengusap pergelangan
    tangannya dan terus merayap ke arah ketiaknya.

    Warti nampak pasrah saja ketika aku memberanikan diri melingkarkan tanganku ke bahunya sambil membelai mesra
    bahunya. Namun ia belum berani untuk menatap mataku. Sambil memeluk bahunya, tangan kananku kumasukkan ke dalam daster melalui lubang lehernya.

    Tanganku mulai merasakan montoknya pangkal buah dada Warti. Kubelai-belai seraya sesekali
    kupencet dagung empuk yang menggunung di dada bagian kanannnya. Ketika kulihat tak ada reaksi dari Warti, secepat kilat kusisipkan tangganku ke dalam BH nya..
    ku angkat cup BH nya dan… kugenggam buah dada ranum si janda muda itu.

    “Ohhh..Pak.. jangan..” Bisiknya dengan serak seraya menoleh ke arahku dan
    mencoba menolak dengan menahan pergelangan tangan kananku dengan tangannya.

    “Sshh..ngga apa-apa mbak..ngga apa-apa.. ” “Nnanti ketauanhh..” “Nggaa..jangan
    takut..” Kataku seraya dengan sigap memegang ujung puting buah dada Warti dengan
    ibu jari dan telunjukku, lalu kupelintir-pelintir ke kiri dan kanan.

    “Ooh..hhh.. Pak.. Ouh..jj..jjanganhh..ouh..” Warti mulai merintih-rintih sambil memejamkan
    matanya. Pegangan tangannya mulai mengendor di pergelangan tanganku.

    Saat itu juga, kusambar bibirnya yang sedari tadi sudah terbuka karena merintih-rintih.

    “Ouhh..mmff..cuphh.. mpffhhh..” Dengan nafas tersengal-sengal Warti mulai
    membalas ciumanku. Kucoba mengulum lidahnya yang mungil, ketika kurasakan ia
    mulai membalas sedotanku.

    Bahkan ia kini mencoba menyedot lidahku ke dalam mulutnya seakan ingin menelannya bulat-bulat. Tangannya kini sudah tidak menahan
    pergelanganku lagi, namun kedua-duanya sudah melingkari leherku. Malahan tangan
    kanannya digunakannya untuk menekan belakang kepalaku sehingga ciuman kami
    berdua semakin lengket dan bergairah.

    Momentum ini tak kusia-siakan. Sementara Warti melingkarkan kedua tangannya di leherku, aku pun melingkarkan kedua
    tanganku di pinggangnya. Aku melepaskan bibirku dari kulumannya, dan aku mulai
    menciumi leher putih Warti dengan buas.

    “Aaahh..Ouhh..” Warti menggelinjang kegelian dan tanganku mulai menyingkap daster di bagian pinggangnya. Kedua
    tanganku merayap cepat ke arah tali BH nya dan.. tasss.. terlepaslah BH nya dan
    dengan sigap kualihkan kedua tanganku ke dadanya. Saat itulah lurasakan betapa
    kencang dan ketatnya kedua buah dada Warti. Kenikmatan meremas-remas dan
    mempermainkan putingnya itu terasa betul sampai ke ujung sarafku.

    Penisku yang sedari tadi sudah menegang terasa semakin tegang dan keras. Rintihan-rintihan
    Warti mulai berubah menjadi jeritan-jeritan kecil terutama saat kuremas buah
    dadanya dengan keras.

    cerita dewasa cerita sex cerita saru cerita panas hanya di www.cerita.fridabali.com

    Warti sekarang lebih mengambil inisiatif. Dengan napasnya
    yang sudah sangat terengah-engah, ia mulai menciumi leher dan mukaku. Ia bahkan
    mulai berani menjilati dan menggigit daun telingaku ketika tangan kananku mulai
    merayap ke arah selangkangannya. Dengan cepat aku menyelipkan jari-jariku ke
    dalam kulotnya melalui perut, langsung ke dalam celana dalamnya.

    Walaupun kami
    berdua masih dalam keadaan duduk berpelukan di atas ranjang, posisi paha Warti
    saat itu sudah dalam keadaan mengangkang seakan memberi jalan bagi jari jemariku
    untuk secepatnya mempermainkan kemaluannya.

    Hujan semakin deras saja mengguyur kota Malang. Sesekali terdengar suara guntur
    bersahutan. Namun cuaca dingin tersebut sama sekali tidak mengurangi gairah kami
    berdua di saat itu.

    Gairah seorang lajang yang memiliki libido yang sangat
    tinggi dan seorang janda muda yang sudah lama sekali tidak menikmati sentuhan
    lelaki. Warti mengeratkan pelukannya di leherku ketika jemariku menyentuh
    bulu-bulu lebat di ujung vaginanya.

    Ia menghentikan ciumannya di kupingku dan
    terdiam sambil terus memejamkan matanya. Tubuhnya terasa menegang ketika jari
    tengahku mulai menyentuh vaginanya yang sudah terasa basah dan berlendir itu.
    Aku mulai mempermainkan vagina itu dan membelainya keatas dan kebawah.

    “Ouuhh Pak..ouhhh.. aaahhh..g..g.ggelliiihh…” Warti sudah tidak bisa berkata-kata lagi
    selain merintih penuh nafsu ketika clitorisnya kutemukan dan kupermainkan.

    Seluruh badan Warti bergetar dan bergelinjang. Ia nampak sudah tak dapat
    mengendalikan dirinya lagi. Jeritan-jeritannya mulai terdengar keras. Sempat
    juga aku kawatir dibuatnya.

    Jangan-jangan seisi rumah mendengar apa yang tengah
    kami lakukan. Namun kerasnya suara hujan dan geledek di luar rumah
    menenangkanku. Benda kecil sebesar kacang itu terasa nikmat diujung jari
    tengahku ketika aku memutar-mutarnya.

    Sambil mempermainkan clitorisnya, aku mulai menundukkan kepalaku dan menciumi buah dadanya yang masih tertutupi oleh
    daster. Seolah mengerti, Warti menyingkapkan dasternya ke atas, sehingga dengan
    jelas aku bisa melihat buah dadanya yang ramun, kenyal dan berwarna putih mulus
    itu bergantung di hadapanku. Karena nafsuku sudah memuncak, dengan buas kusedot
    dan kuhisap buah dada yang berputing merah jambu itu.

    Putingnya terasa keras di dalam mulutku menandakan nafsu janda muda itu pun sudah sampai di puncak. Warti
    mulai menjerit-jerit tidak karuan sambil menjambak rambutku.

    Sejenak kuhentikan hisapanku dan bertanya “enak mbak ??”. Sebagai jawabannya, Warti membenamkan
    kembali kepalaku ke dalam ranumnya buah dadanya. Jari tengahku yang masih
    mempermainkan clitorisnya kini kuarahkan ke lubang vagina Warti yang sudah
    menganga karena basah dan posisi pahanya yang mengangkang. Dengan pelan tapi
    pasti kubenamkan jari tengahku itu ke dalamnya dan…

    “Auuhhh… P.Paaaak..hhhh” Warti menjerit dan menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang “terrusshh..auhh..”
    Kugerakkan jariku keluar masuk di vaginanya dan Warti menggoyangkan pingggulnya
    mengikuti irama keluar masuknya jemariku itu.

    cerita dewasa cerita sex cerita saru cerita panas hanya di www.cerita.fridabali.com

    Aku menghentikan ciumanku di buah
    dada Warti dan mulai mengecup bibir ranum janda itu. Matanya tak lagi terpejam,
    tapi memandang sayu ke mataku seakan berharap kenikmatan yang ia rasakan ini
    jangan pernah berakhir.

    Tangan kiriku yang masih bebas, membimbing tangan kanan
    Warti ke balik celana pendekku. Ketika tangannya menyentuh penisku yang sudah
    sangat keras dan besar itu, terlihat ia agak terbelalak karena belum pernah
    melihat bentuk yang panjang dan besar seperti itu.

    Warti meremas penisku dan mulai mengocoknya naik turun naik turun.. kocokan yang nikmat yang membuatku
    tanpa sadar melenguh

    “Ahhh.. mbaaak.. enaknya…terusin..”. Saat itu kami berdua
    berada pada puncaknya nafsu. Aku yakin bahwa Mbak Warti sudah ingin secepatnya
    memasukkan penisku kedalam vaginanya. Ia tidak mengatakannya secara langsung,
    namun dari tingkahnya menarik penisku dan mendekatkannya ke vaginanya sudah
    merupakan pertanda. Namun, di detik-detik yang paling menggairahkan itu terdegar
    suara si Bapak tua berteriak

    “Wartiiii.. Wartiiii…”. Kami berdua tersentak. Ku
    keluarkan jemariku dari vaginanya, Warti melepaskan kocokannya dan ia membenahi
    pakaian dan rambutnya yang berantakan. Sambil mengancingkan kembali BH nya ia
    keluar dari kamarku menuju kamar Bapak tua itu. Sialan !! kepalaku terasa
    pening. Begitulah penyakitku kalau libidoku tak tersalurkan.

    Beberapa saat lamanya aku menanti siapa tahu janda muda itu akan kembali ke
    kamarku. Tapi nampaknya ia sibuk mengurus orang tua pikun itu, sampai aku
    tertidur. Entah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba aku merasa napasku sesak.
    Dadaku serasa tertindih suatu beban yang berat. Aku terbangun dan membuka
    mataku. Aku terbelalak, karena tampak sesosok tubuh putih mulus telanjang bulat
    menindih tubuhku.

    “Mbak Warti ?..” Tanyaku tergagap karena masih mengagumi
    keindahan tubuh mulus yang berada di atas tubuhku. Lekukan pinggulnya terlihat
    landai, dan perutnya terasa masih kencang.

    Buah dadanya yang lancip dan montok
    itu menindih dadaku yang masih terbalut piyama itu. Seketika, rasa kantukku
    hilang. Mbak Warti tersenyum simpul ketika tangannya memegang celanaku dan
    merasakan betapa penisku sudah kembali menegang. “Kita tuntaskan ya mbak ?”
    Kataku sambil menyambut kuluman lidahnya.

    Sambil dalam posisi tertindih aku
    menanggalkan seluruh baju dan celanaku. Kegairahan yang sempat terputus itu,
    mendadak kembali lagi dan terasa bahkan lebih menggila. Kami berdua yang sudah
    dalam keadaan bugil saling meraba, meremas, mencium, merintih dengan keganasan
    yang luar biasa.

    cerita dewasa cerita sex cerita saru cerita panas hanya di www.cerita.fridabali.com

    Mbak Warti sudah tidak malu-malu lagi menggoyangkan pinggulnya
    diatas penisku sehingga bergesekan dengan vaginanya. Tidak lebih dari 5 menit,
    aku merasakan bahwa nafsu syahwat kami sudah kembali berada dipuncak. Aku tak
    ingin kehilangan momen lagi.

    Kubalikkan tubuh Warti, dan kutindih sehingga
    keempukan buah dadanya terasa benar menempel di dadaku. Perutku menggesek nikmat
    perutnya yang kencang, dan penisku yang sudah sangat menegang itu bergesekan
    dengan vaginanya.

    “Mbak.. buka kakinya.. sekarang kamu akan merasakan sorganya
    dunia mbak..” bisikku sambil mengangkangkan kedua pahanya. Sambil
    tersengal-sengal Warti membuka pahanya selebar-lebarnya.

    Ia tersenyum manis
    dengan mata sayunya yang penuh harap itu. “Ayo Pak.. masukkan sekarang…” Aku
    menempelkan kepala penisku yang besar itu di mulut vagina Warti. Perlahan-lahan
    aku memasukkannya ke dalam, semakin dalam, semakin dalam dan…

    “Aaa.. Aooohh..Pp.paakh…..aaaahh..” rintihnya sambil membelalakkan matanya ketika
    hampir seluruh penisku kubenamkan ke dalam vaginanya. Setelah itu “Blesss…”
    dengan sentakan yang kuat kubenamkan habis penisku diiringi jeritan erotisnya
    “Ahhhhh…besarnyah…ennnakk ppaak..”.

    Aku mulai memompakan penisku keluar masuk keluar masuk. Gerakanku makin cepat dan cepat. Semakin cepat gerakanku, semakin
    keras jeritan Warti terdengar di kamarku. Pinggul janda muda itu pun
    berputar-putar dengan cepat mengikuti irama pompaanku. Kadang-kadang pinggulnya
    sampai terangkat-angkat untuk mengimbangi kecepatan naik turunnya pinggulku.

    Buah dadanya yang terlihat bulat dalam keadaan berbaring itu bergetar dan
    bergoyang kesana kemari. Sungguh menggairahkan !! Tiba-tiba aku merasakan
    pelukannya semakin mengeras. Terasa kuku-kukunya menancap di punggungku.
    Otot-ototnya mulai menegang.

    Nafas perempuan itu juga semakin cepat. Tiba-tiba
    tubuhnya mengejang, mulutnya terbuka, matanya terpejam,dan alisnya merengut

    “Aaaaahhhhhhh..” Warti menjerit panjang seraya menjambak rambutku, dan penisku
    yang masih bergerak masuk keluar itu terasa disiram oleh suatu cairan hangat.
    Dari wajahnya yang menyeringai, tampak janda muda itu tengah menghayati
    orgasmenya yang mungkin sudah lama tidak pernah ia alami itu.

    Aku tidak
    mengendurkan goyangan pinggulku, karena aku sedang berada di puncak kenikmatanku
    “Mbak.. goyang terus mbak.. aku juga mau keluar..”

    Warti kembali menggoyang pinggulnya dengan cepat dan beberapa detik kemudian, seluruh tubuhku menegang

    “keluarkan di dalam saja pak…” bisik Warti “aku masih pakai IUD…”

    Begitu Warti selesai berbisik, aku melenguh

    “Mbak..aku keluar..aku keluarr….aaahhhh..” dan..
    crat..crat.. craaaat.. kubenamkan penisku dalam-dalam di vagina perempuan itu.
    Seakan mengerti, Warti mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga puncak
    kenikmatan ini terasa benar hingga ke tulang sum-sumku.

    cerita dewasa cerita sex cerita saru cerita panas hanya di www.cerita.fridabali.com

    Kami berdua terkulai lemas sambil memejamkan mata. Pikiran kami melayang-layang
    entah kemana. Tubuhku masih menindih tubuh montok Warti. Kami berdua masih saling
    berpelukan dan aku pun membayangkan hari-hari penuh kenikmatan yang akan kualami
    sesudah itu di Malang.

    Sejak kejadian malam itu, kesibukan di kantorku yang luar biasa membuatku sering
    pulang larut malam. Kepenatanku selalu membuatku langsung tertidur lelap.
    Kesibukan ini bahkan membuat aku jarang bisa berkomunikasi dengan Warti.

    Walaupun
    begitu, sering juga aku mempergunakan waktu makan siangku untuk mampir ke rumah
    dengan maksud untuk melakukan sex during lunch. Sayang, di waktu tersebut
    ternyata Ayah Anto senantiasa dalam keadaan bangun sehingga niatku tak pernah
    kesampaian. Namun suatu hari aku cukup beruntung walaupun orang tua itu tidak
    tidur. Aku mendapat apa yang kuinginkan.

    Ceritanya sebagai berikut: Warti diminta
    oleh Ayah Anto untuk mengambil sesuatu di kamarnya. Melihat peluang itu, aku
    diam-diam mengikutinya dari belakang. Kamar ayah Anto memang tidak terlihat dari
    tempat di mana orang tua itu biasa duduk. Sesampainya di kamar kuraih pinggang
    semampai perawat itu dari belakang.

    Warti terkejut dan tertawa kecil ketika sadar
    siapa yang memeluknya dan tanpa basa-basi langsung menyambut ciumanku dengan
    bibirnya yang mungil itu sambil dengan buas mengulum lidahku. Ia memang sudah
    tidak malu-malu lagi seperti awal pertemuan kami.

    Janda cantik itu sudah
    menunjukkan karakternya sebagai seorang pecinta sejati yang tanpa malu-malu lagi
    menunjukkan kebuasan gairahnya. Kadang aku tidak mengerti, kenapa suaminya tega
    meninggalkannya. Namun analisaku mengatakan, suaminya tak mampu mengimbangi
    gejolak gairah Warti di atas ranjang dan untuk menutupi rasa malu yang terus
    menerus terpaksa ia meninggalkan perempuan muda itu untuk hidup bersama dengan
    perempuan lain yang lebih ‘low profile’.

    Aku memang belum sempat menanyakan pada
    Warti bagaimana ia menyalurkan kebutuhan biologisnya disaat menjanda. Aku
    berpikir, bawa masturbasi adalah jalan satu-satunya.
    Kami berdua masih saling berciuman dengan ganas ketika dengan sigap aku
    menyelipkan tanganku ke balik baju perawatnya yang putih itu.

    Sungguh terkejut
    ketika aku sadar bahwa ia sama sekali tidak memakai BH sehingga dengan mudahnya
    kuremas buah dada kanannya yang ranum itu.

    “Kok ngga pakai BH mbak..?” Sambil
    menggelinjang dan mendesah, ia menjawab sambil tersenyum nakal “supaya gampang
    diremas sama kamu..”

    Benar-benar jawaban yang menggemaskan! Kembali kukulum
    bibir dan lidahnya yang menggairahkan itu sambil dengan cepat kubuka kancing
    bajunya yang pertama, kedua, dan ketiga ….

    Lalu tanpa membuang waktu kutundukkan
    kepalaku, dengan tangan kananku kukeluarkan buah dada kanannya dan kuhisap
    sedemikian rupa sehingga hampir setengahnya masuk ke dalam mulutku. Warti mulai
    mengerang kegelian

    “Ouhhh..geli mas.. geliii.. ahhh..” Sejak kejadian malam itu,
    ia memang membiasakan dirinya untuk memanggilku mas. Sambil menggelinjang dan
    merintih, tangan kanan Warti mulai mengelus-elus bagian depan celana kantorku.
    Penisku yang terletak tepat di baliknya terasa semakin menegang dan menegang.
    Jari-jari lentik perempuan itu berusaha untuk mencari letak kepala penisku untuk
    kemudian digosok-gosoknya dari luar celana.

    cerita dewasa cerita sex cerita saru cerita panas hanya di www.cerita.fridabali.com

    Sensasi itu membuat nafasku semakin
    memburu seperti layaknya nafas kuda yang tengah berlari kencang. Seakan tak mau
    kalah darinya, tangan kiriku berusaha menyingkap rok janda muda itu dan dengan
    sigap kugosokkan jari-jemariku di celana dalamnya. Tepat diatas vaginanya,
    celana dalam Warti terasa sudah basah.

    Sungguh hebat! Hanya dalam beberapa menit
    saja, ia sudah sedemikian terangsangnya sehingga vaginanya sudah siap untuk
    dimasuki oleh penisku. Tanpa membuang waktu kuturunkan celana dalam tipis yang
    kali ini berwarna hitam, kudorong tubuh montok perawat itu kedinding, lalu
    kuangkat paha kanannya sehingga dengkulnya menempel dipinggangku. Dengan sigap
    pula kubuka resleting celanaku dan kukeluarkan penisku yang sudah sangat tegang
    dan besar itu. Warti sudah nampak pasrah. Ia hanya bersender di dinding sambil
    memejamkan matanya dan memeluk bahuku.

    “Wartiii.. mana minyak tawonnya.. kok lama betuul…”. Suara orang tua itu
    terdengar dengan keras. Sungguh menjengkelkan. Warti sempat terkejut dan nampak
    panik ketika kemudian aku berbisik “Tenang mbak.. jawab aja.. kita selesaikan
    dulu ini.. kamu mau kan ?”

    Ia mengangguk seraya tersenyum manis “Sebentar Pak..”
    teriaknya “Minyak tawonnya keselip entah kemana.. ini lagi dicari kok…” Ia
    tertawa cekikikan, geli mendengar jawaban spontannya sendiri.

    Namun tawanya itu
    langsung berubah menjadi jerikan erotis kecil ketika kupukul-pukulkan kepala
    penisku ke selangkangannya. Perlahan-lahan kutempelkan kepala penisku itu di
    pintu vaginanya.

    Sambi kuputar-putar kecil kudorong pinggulku perlahan-lahan.
    Warti ternganga sambil terengah-engah

    “Aaahhh..aaahh.. ouhhh..mas..besar
    sekali..pelan-pelan mas..pelan-pelanhh..” dan.. “Aaaa…” Warti menjerit kecil
    ketika kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang becek dan terasa
    sangat sempit dalam posisi berdiri ini.

    Aku menyodokkan penisku maju mundur
    dengan gerakan yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tubuh Warti
    terguncang-guncang, buah dadanya bergayut ke kiri dan kanan dan jeritannya
    semakin menjadi-jadi. Aku sudah tak perduli kalau ayah Anton sampai mendengarkan
    jeritan perempuan itu.

    Nafsuku sudah naik ke kepala. Janda muda ini memang
    memiliki daya pikat sex yang luar biasa. Walaupun ia hanya seorang perawat,
    namun kemulusan dan kemontokan badannya sungguh setara dengan perempuan kota
    jaman sekarang.

    Sangat terawat dan nikmat sekali bila digesek-gesekkankan di
    kulit kita. Gerakan pinggulku semakin cepat dan semakin cepat. Mulutku tak
    puas-puasnya menciumi dan menghisap puting buah dadanya yang meruncing panjang
    dan keras itu.

    Buah dadanya yang kenyal itu hampir seluruhnya dibasahi oleh air
    liurku. Aku memang sedang nafsu berat. Aku merasakan bahwa sebentar lagi aku
    akan orgasme dan bersamaan dengan itu juga tubuh Warti menegang. Kupercepat
    gerakan pinggulku dan tiba-tiba

    “Aaahh..mas..masss…aku keluarrr……..
    aaaaaahhhh….” Jeritnya. Saat itu juga kusodokkan penisku ke dalam vagina janda
    muda itu sekeras-kerasnya dan….. craaat..craatt.craaaaaat….. “Ahhh…mbaaak…”
    erangku sambil meringis menikmati puncak orgasme kami yang waktunya jatuh
    bersamaan itu.